Kategori

Sebuah Program yang Menarik dari Asialink

Program Asian Australia Mental Health (AAMH) dari Asialink merupakan salah satu program yang sangat menarik menurut Penulis. Berdasarkan perbincangan bersama Mbak Mila Sudarsono,AAMH merujuk pada pengobatan mental dari Asia. “Jadi kami mengikutsertakan pemerintah dan badan dari negara-negara Asia untuk mendiskusikan tentang pengobatan mental, seperti metode pengobatan metode pengobatan di Cina dan sebagainya” demikian ditegaskan David Paroissien. (Fauza Masyhudi)

Pertama Kali Menginjakkan Kaki di Negeri Kangguru

Setelah briefing pada Jumat, 5 Maret 2010, akhirnya, kami, peserta MEP (Rita Pranawati, Penelti CSRC; Fauza Masyhudi, Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang ; Helma Malini, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Tanjung Pura; Nikmatullah, Dosen Fakultas Dakwah IAIN Mataram) diberangkatkan ke Australia pada tanggal 7 Maret pukul 20.40. Kami tiba di Sidney setelah lebih kurang 7 jam dari jadwal keberangkatan. Setelah tiba di Sidney, penerbangan langsung ditransit ke kota tujuan awal kegiatan MEP ini. Berkisar satu setengah jam kemudian, akhirnya kami sampai ke kota tujuan tersebut yakni Melbourne. Sesampai di Malbourne, kami disambut oleh Mas Wawan Hermawan yang merupakan mahasiswa RMIT di Australia dengan sapa dan senyum ramah. Tidak hanya itu, suhu udara yang sangat dingin (menurut kami) disertai rintik hujan turut menyambut kedatangan kami di salah satu kota di Negeri Kangguru ini.
Program MEP di hari pertama yang dipandu oleh Mas Wawan ini dimulai dengan temu ramah bersama Mbak Mila Sudarsono yang bekerja di Asian Studies di Melbourne University. Di samping itu, beliau adalah juga salah seorang penguji ketika tes interview MEP yang diadakan pada tanggal 13 dan 14 Januari yang lalu. Acara dilanjutkan dengan pertemuan bersama Jeremy Kingsley (seorang kandidat Phd di Universitas Melbourne) dan Mbak Dina Afrianty, seorang mahasiswa PhD yang ternyata sekampung dengan Penulis, yakni Padang Sumatera Barat.
Pada pukul 18.00 sore kami berjumpa dengan David Paroissien dan Mrs Boni yang sama-sama bekerja di Asialink sambil dinner. Suatu hal yang menarik, ternyata Mrs Boni seorang WNA merupakan istri Mas Wawan seorang WNI. Dinner yang juga ditemani oleh oleh Mbak Mila yang selalu energic dan penuh semangat membuat suasana dinner menjadi semakin menyenangkan. Dinner ini menjadi akhir program kami di hari pertama menginjakkan kaki di Negeri Kangguru. (Fauza Masyhudi)

wawancara

Pengalaman Briefing

Peserta MEP group I berkesempatan untuk wawancara dengan media: Noor magazine, majalah femina dan Radio Kangguru. Dalam kesempatan tersebut, peserta diwawancarai tentang apa yang akan dilakukan di Australia, akan bertemu dengan siapa dan lembaga mana saja serta materi-materi/isu-isu yang akan dishare di Australia. Tidak lupa mereka menanyakan tentang sikap peserta terhadap isu-isu controversial saat ini yang terkait dengan kebijakan pemerintah dan lembaga agama, khsusnya MUI misalnya fatwa MUI tentang haram rebounding, pluralisme dan facebook. Selain itu jga, isu gender yang masih controversial di sebagian kalangan umat muslim Indonesia.

Briefing Women Group MEP 2010

Briefing Women Group MEP 2010

Briefing Women Group MEP 2010

Dalam rangka kunjungan Muslim Indonesia (Moslem Exchange Program) ke Australia, Kedutaan Besar Australia mengadakan briefing bagi para peserta grup pertama yang akan berkunjung 7-21 Maret 2010. Para peserta MEP 2010 yang tergabung dalam grup pertama adalah Nikmatullah (Dosen IAIN Mataram), Fauza Masyhudi (Dosen IAIN Imam Bonjol Padang), Helma Malini (Koordinator Fatayat Kalimantan Barat-Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Tanjung Pura), dan Rita Pranawati (Peneliti CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta-Ketua IV Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah).

Para peserta MEP 2010 ini akan mengunjungi Melbourne, Sidney dan Canberra. Mereka juga akan bertukar pikiran dengan para akademisi diantaranya Prof. Tim Lindsay, Prof. Susan Bluckburn (Monash University), dan Prof. Abdullah Saeed (Melbourne University). Para peserta juga akan berdialog dengan komunitas Muslim di Australia seperti Sudanese Community, Ahmadiyah, Islamic Council of Victoria, serta Muslim Indonesia di Australia. Para peserta juga akan melakukan dialog antar iman dengan komunitas Yahudi, Kristen, dan Katolik di Australia. Para peserta juga akan berkunjung ke LSM perempuan, parlemen, dan sekolah Islam yang akan menambah pengetahuan para peserta tentang Australia. Kunjungan ke Radio Australia dan museum akan melengkapi kunjungan peserta MEP ini.

Dalam briefing ini peserta mendapatkan penjelasan mengenai kondisi sosial budaya di Australia dan perkembangan komunitas muslim di Australia. Dengan briefing ini diharapkan tujuan MEP agar ada komunikasi yang lebih baik khususnya antar muslim Indonesia, dan masyarakat Indonesia pada umumnya dengan masyarakat Australia dapat tercapai. Kunjungan ini juga diharapkan dapat membuka dialog agar misinterpertasi antar muslim Indonesia dan masyarakat Australia dapat diluruskan. Selain itu, diharapkan pengalaman yang didapatkan di Australia dapat ditularkan kepada komunitasnya sekembalinya dari Australia. Selain briefing, para peserta juga melakukan interview dengan Noor Magazine, majalah Femina, dan Radio Kangguru.

Kunjungan Komunitas di Tiga Kota Kunci

blog-kbri

Tulisan ini semula merupakan catatan yang ditulis untuk MATAN, sebuah majalah yang berbasis di Jawa Timur. Untuk kepentingan blog ini, penulis (Subhan Setowara) melakukan beberapa perubahan dan membaginya menjadi 3 bagian. Tulisan berikut merupakan catatan pertama:

DEPARTEMEN Luar Negeri Australia, melalui the Australia-Indonesia Institute (AII), sejak 2002 memprakarsai program yang bertujuan membangun kemitraan strategis antara umat Islam Australia dan Indonesia, yaitu Muslim Exchange Program (MEP). Setiap tahun, AII mendelegasikan 5 tokoh Muslim Australia mengunjungi Indonesia, dan 10 tokoh Muslim Indonesia mengunjungi Australia.

Penulis, bersama Hasan Basri (UGM Yogyakarta) dan Cucu Surahman (UIN Jakarta) merupakan group ketiga yang mengunjungi Australia pada 7-21 Juni 2009. Kami ditemani 2 wartawan media nasional, yaitu Alex Aji Saputra (Seputar Indonesia) dan Heri Ruslan (Republika) yang ditugaskan khusus meliput kegiatan ini. Kegiatan MEP 2009 berpusat di 3 kota; Melbourne, Canberra, dan Sydney. Dapat dikatan bahwa 3 kota tersebut merupakan jantung Australia; Melbourne sebagai pusat budaya, Canberra sebagai pusat politik, sementara Sydney merupakan pusat bisnis.

Hal itu sangat terasa pada beberapa rangkaian acara yang kami jalani. Di Melbourne, kami mengikuti Smoking Ceremony dengan komunitas pribumi di Maya Aboriginal Healing Centre, mengunjungi National Gallery of Victoria, dan bertemu komunitas artis Muslim Australia. Di Canberra, kami berdialog dengan jajaran kementrian luar negeri Australia, mengunjungi Canberra Times, dan mengikuti Federal Parliamentary Tour. Di Sydney, kami mengunjungi Opera House, Sydney Tower, dan menonton big match National Rugby League (NRL) antara Bulldogs vs Panthers di ANZ Stadium (Sydney Olympic Park).

Kegiatan selama di Australia amat mengesankan, sekaligus melelahkan. Mengesankan karena kami dapat bertemu dan berdialog secara terbuka dengan banyak komunitas, dan juga amat melelahkan karena hanya dalam waktu 2 pekan kami harus mengunjungi sekitar 50 institusi dan komunitas. Secara garis besar, kegiatan di Australia meliputi 3 bagian; dialog dengan komunitas Muslim, kunjungan akademik dan diplomatik, serta dialog multikultural dan lintas-iman.

(Subhan Setowara)

Graha Muslim di Negeri Kanguru

blog

Tulisan ini semula merupakan catatan yang ditulis untuk MATAN, sebuah majalah yang berbasis di Jawa Timur. Untuk kepentingan blog ini, penulis (Subhan Setowara) melakukan beberapa perubahan dan membaginya menjadi 3 bagian. Tulisan berikut merupakan catatan kedua:

PERTEMUAN dengan komunitas Muslim Australia menjadi momen paling menarik bagi kami karena sebagian besar mereka bukanlah komunitas pribumi Australia, tentu amat berbeda dengan Muslim Indonesia yang notabene warga pribumi. Berdasarkan catatan resmi Deplu Australia, mereka berasal dari Lebanon (30.287), Turki (23.126), Bosnia dan Herzegovina (7.542), Afghanistan (15.965), Pakistan (13.361), Irak (10.039), Indonesia (8.656), dan banyak negara lainnya. Pertemuan dengan komunitas Muslim biasanya diadakan selepas Isya sekaligus makan malam bersama.

Pertemuan pertama kami yaitu welcoming dinner bersama pengurus Islamic Council of Victoria (ICV) dan sejumlah pemimpin Muslim Australia di sebuah restoran Lebanon di Sidney Road, Brunswick, Melbourne. Menariknya, Sydney Road di Brunswick ternyata memang kawasan kuliner khas Timur Tengah, sehingga pertemuan dengan komunitas Muslim di Melbourne sering diadakan di kawasan ini, termasuk pertemuan dengan komunitas artis Muslim Australia di La Paella Restaurant yang khas Maroko.

Tantangan komunitas Muslim Australia berbeda pada masing-masing daerah. Di Melbourne (Victoria), mayoritas Muslim mengelompok dengan komunitas etnisnya masing-masing, termasuk Muslim Indonesia yang membentuk Indonesian Muslim Community in Victoria (IMCV) yang juga mendirikan masjid sendiri, Westall Mosque. Sementara di Canberra (Australian Capital Territory), sebagai pusat politik, tantangan utamanya adalah bagaimana berhadapan dengan media dan kebijakan pemerintah.

Di Sydney (New South Wales), sebagian besar umat Islam kurang memiliki minat terhadap pembentukan komunitas Muslim. Banyak dari mereka telah menjadi Muslim metropolis di mana waktu dan aktivitas lebih disita oleh urusan pekerjaan dan karir. Padahal, berdasarkan catatan Departemen Imigrasi Australia, 49.6 % dari total populasi Muslim Australia bermukin di kawasan ini. Karenanya, mereka lebih banyak bertemu dalam pertemuan bisnis dan ajang komunitas lain seperti seni dan olahraga. Kami merasakan itu selepas menyaksikan pertandingan rugbi antara Bulldogs vs Panthers. Sekalipun di tim Bulldogs hanya ada 2 pemain Muslim, namun sekitar 75 % persen anggota fans club ternyata beragama Islam.

(Subhan Setowara)

Menyelami Multikulturalisme Australia

blog-multi

Tulisan ini semula merupakan catatan yang ditulis untuk MATAN, sebuah majalah yang berbasis di Jawa Timur. Untuk kepentingan blog ini, penulis (Subhan Setowara) melakukan beberapa perubahan dan membaginya menjadi 3 bagian. Tulisan berikut merupakan catatan ketiga:

SELAMA di Australia, kami banyak melakukan kunjungan dan dialog lintas-iman, mulai dari pertemuan dengan agama mainstream, seperti Katolik dan Kristen Anglikan, hingga agama dan komunitas kepercaayaan yang “dipersoalkan” di Indonesia seperti Yahudi, Brahma Kumaris, dan Ahmadiyah. Selain dialog, kami mengunjungi sejumlah situs penting agama-agama tersebut, seperti gereja katedral, sinagog, dan pusat spiritual Brahma Kumaris.

Dalam kunjungan multikultural, kami berdialog dengan Migrant Resources Centre di Canberra, di mana kami mendapatkan kesimpulan bahwa mayoritas penduduk Australia adalah migran dan keturunan migran. Warga pribumi (penduduk Aborigin dan Kepulauan Selat Torres) justru tidak banyak terlihat, selain jumlahnya minim, mereka juga cenderung tinggal di daerah pedesaan dan terpencil. Untungnya kami mendapat kesempatan mengunjungi Maya Aboriginal Healing Centre di Victoria yang menjadi pusat pertemuan dan seremoni budaya komunitas Aborigin.

Dalam lawatan akademik, kami berkunjung ke Monash University, University of Melbourne, Australian National University (ANU), University of Sydney, serta berdialog dengan Prof. Abdullah Saeed, direktur National Centre of Excellence for Islamic Studies (NCEIS) yang merupakan pusat kajian Islam yang berbasis pada sejumlah universitas di Australia.

Pada Center for Islamic Law and Society, University of Melbourne, kami mendapat kesempatan menjadi panelis dalam seminar tentang Public Religion and Intergenerational Change in Indonesia di mana penulis secara khusus berbicara tentang peran Muhammadiyah di ranah publik. Di Canberra, kami juga sempat berdialog bersama Virginia Hooker (Prof Emeritus ANU) dan beberapa anggota Partnership for Islamic Education Scholarship (PIES) yang berasal dari Indonesia.

Pemahaman kami terhadap Australia semakin lengkap setelah berdialog dengan sejumlah jajaran penting pemerintah Australia, di antaranya Fiona Hoggart (Direktur Annual Report, Deplu), Chamandeep Chehl (Direktur National Action Plan, Departemen Imigrasi dan Kewarganegaraan), John Williams (Direktur Indonesia Political and Strategic Section, Deplu), dan Jenny Cartmill (Direktur Australia-Indonesia Institute, Deplu). Dalam dialog tersebut, kami berbicara seputar kebijakan politik pemerintah Australia terhadap imigran Muslim yang bermukim di negara tersebut serta prospek hubungan diplomatik antara Indonesia dan Australia.

Serangkaian kunjungan pada situs-situs terpenting Australia memberikan gambaran bahwa sebagai bangsa multikultural, negeri Kanguru telah menjadi tempat yang nyaman bagi umat Islam. Berdasarkan informasi dari Deplu Australia, Islam merupakan agama yang paling menunjukkan peningkatan proporsional nomor dua setelah Hindu. Diprediksi, umat Islam akan terus meningkat secara signifikan karena keinginan untuk segera menikah dan memiliki banyak anak tidak dimiliki oleh umumnya warga Australia. Berbanding terbalik dengan doktrin dalam Islam agar pemuda segera menikah dan memperbanyak anak sebagai sarana dakwah.

(Subhan Setowara)

Green Bag and Cool Bag

sidney-176-300x1501

Bersama Zubaidah dan suaminya, guide kami di Sidney

Sidney, 11 April 2009

Senang sekali hari ini karena tidak ada lagi kunjungan ke institusi-institusi, rasanya ingin teriak “merdeka”. Hari ini adalah hari “shoping” dan “rekreasi”.  Tempat pertama yang kita kunjungi adalah Paddy’s Market, salah satu pasar yang menjadi pusat kunjungan para turis domestik dan internasional yang banyak menyediakan cenderamata khas Australia. Inilah pasar ketiga yang kami kunjungi selama di Australia, sebelumnya pasar di Melbourne dan Adelaide.

Ada hal yang menarik yang saya perhatikan dari ketiga pasar tersebut yakni penggunaan “green bag” dan “cool bag”. Green bag adalah tas warna hijau yang biasa digunakan saat berbelanja ke pasar hususnya pasar-pasar tradisional sedangkan cool bag warnanya biru yang cocok dipakai jika ingin menyimpan sesuatu agar tetap dingin (segar). Penggunaan green bag sudah lama dicanankan pemerintah Australia dengan tujuan mengurangi penggunaan kantong plastik. Seperti diketahui bahwa salah satu kator yang menyebabkan rusaknya limgkungan hidup adalah pembuangan limbah sampah plastik. Kantong plastik telah menjadi sampah yang berbahaya dan sulit dikelola. Hampir semua kantong plastik yang tidak dipakai lagi berakhir di lahan penimbunan sampah. Plastik bukan berasal dari senyawa biologis dan  memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Oleh karena itu diperkirakan membutuhkanwaktu sekitar 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah secara  sempurna.

Memang tidak mungkin bisa menghapuskan penggunaan kantong plastik 100%, tetapi bisa menguranginya dengan membawa tas sendiri yang dapat dipakai berulang kali saat berbelanja. Nah seperti itulah gambaran green bag dan cool bag yang bisa dicuci jika misalnya sudah kotor. Memang belum semua pasar menggunakan green bag dan cool bag, hal tersebut nampak saat kami berbelanja oleh-oleh. Tapi setidaknya kesadaran masyarakat Australia perlu dicontoh agar kita bisa mengurangi dampak negatif dari penggunaan kantong plastik.

Sebagai kenang-kenangan saya membawa satu green bag pulang ke Indonesia dan kadang memakainya saat berbelanja ke pasar. Masalahnya terkadang diolokin teman-teman “suit-suit yang baru pulang dari Australia ke pasar aja tasnya dipamerkan”.

Nah loh…

lovesamarinda

Kunjungan Pertama, Monash University

clocktower5

Melbourne, 8th June 2009

 

Ketika waktu menjelang tengah hari, kami diantar oleh Rowan Gould (Islamic Council of Victoria) menuju Quest Clocktower, salah satu apartemen yang terletak berdekatan dengan Melbourne University dan Lygon Street, daerah kuliner restoran Italia. Sesampai di apartemen, saya langsung saja terlelap di atas sofa ruang utama. Huh, I was very tired at the time.

 

Menjelang senja, sekitar pukul 14.30, saya dibangunkan oleh Cucu dan Hasan. Kami harus beraktivitas kembali, Rowan sudah menunggu di lantai dasar; kebetulan apartemen kami terletak di lantai 2. Setelah itu kami lunch sebentar di daerah Lygon Street yang sangat multikultural itu, karena sebagian besar pengunjung restoran bukanlah orang Australia.

 

Jadwal kunjungan pertama kami adalah bertandang ke Monash University, tepatnya di Caufield Campus, untuk berdialog dengan Prof Emeritus Gary Bouma (UNESCO Chair in Interreligious and Intercultural Relations dan Chair of the 2009 Melbourne Parliament of World Religions yang rencananya akan berlangsung pada 3 s/d 9 Desember mendatang). Kami juga bertukar pikiran dengan Dr Julian Millie (Post-doctoral Research Fellow in the School of Political and Social Inquiry, Monash University). Banyak tema yang kami bicarakan, terutama terkait dengan komunitas Muslim di Australia, mengingat Mr Gary adalah orang yang memang banyak memerankan diri dalam pembentukan komunitas lintas-agama dan lintas-budaya, khususnya di Asia-Pasifik.

 

Setelah banyak berdiskusi, saya mengambil kesimpulan bahwa (benar kata Rowan) Australia adalah free market area for religious thought, tentu amat berbeda dengan Indonesia yang begitu kompleks dalam menangani soal agama, apalagi jika dikaitkan dengan peran masing-masing lembaga, mulai dari Departemen Agama, Majelis Ulama Indonesia, hingga lembaga civil Islam seperti NU dan Muhammadiyah. Mr Julian juga bertanya pada saya tentang JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah). Saya katakan bahwa tentu JIL dan JIMM memiliki fokus yang berbeda terkait dengan pengembangan pemikiran Islam. JIL lebih terfokus pada soal-soal teologis, sementara JIMM lebih banyak mencurahkan diri pada masalah-masalah kemanusiaan, seperti kemiskinan, ketertindasan, dan keterbelakangan.

 

Banyak tema menarik yang kami bicarakan, termasuk misalnya tentang citra Muslim di mata warga Australia. Bagi Gary dan Julian, harus diakui, masih terdapat sejumlah warga yang menilai Islam secara pejoratif mengingat serangkaian tindakan teror dan kekerasan yang dilakukan umat Islam di banyak negara, termasuk Indonesia yang cukup terkenal dengan Amrozi dkk. Demikian juga perbincangan kami tentang kelompok Muslim non-mainstream seperti Syiah dan Ahmadiyah. Ternyata, di Australia, kelompok Muslim pun sangat multikultural.

 

(Subhan Setowara)

Selamat Datang di Negeri Kanguru!

pasha3

Sydney, 8th June 2009

 

Ketika pihak kedutaan besar memberikan jadwal kegiatan selama di Australia, saya sudah menduga bahwa kami akan memiliki banyak pengalaman menarik. Namun dua momen pertama kami di negeri kanguru bukanlah pertemuan dengan warga Austrulia, namun justru dengan warga dari negeri kami, the lovely Indonesia. Ketika transit di Sydney, kami bertemu salah satu band papan atas Indonesia yang juga banyak merilis lagu bertajuk Islam, Ungu, yang kebetulan satu pesawat dengan kami karena diundang oleh KBRI Australia untuk melakukan konser perayaan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) di hadapan para calon pemilih Pilpres 2009 di kompleks Roundhouse, University of New South Wales (UNSW), Sydney. Pasha, sang vokalis, bertanya pada kami, apa tujuan utama kami ke Australia, tentu kami menjawab,”Kami mengikuti program pertukaran tokoh Muslim. Tugas kami adalah menggambarkan tentang Islam Indonesia”. Pasha pun hanya menjawab, “Ah, becanda kamu!”

 

Selain itu, kami juga bertemu dengan seorang warga Indonesia yang sedang kebingungan di Sydney Airport, Mr. Amin from Palembang. Lelaki yang kebetulan tidak bisa berbahasa Inggris itu, tentu sangat senang ketika bertemu dengan kami yang sesama Indonesia. Ia sejatinya berangkat ke Melbourne dengan Qantas pukul 08.10, sedangkan kami baru akan berangkat pukul 08.45. Tapi, begitulah gelagat orang yang sedang bingung. Waktu kami katakan bahwa pesawat kita berbeda, dan ia akan terlambat jika menunggu kami, dia tidak peduli, ia tetap saja menunggu. Padahal kami sedang menunggu Cucu yang barang bawaannya sempat dipersoalkan oleh petugas bandara. Untungnya, Mr. Amin yang semestinya terlambat itu diberikan kemudahan dengan penggantian tiket yang semula pukul 08.10 menjadi 08.45, sama dengan kami. Anehnya, sesampai di Melbourne, Mr. Amin meminta agar dibolehkan bersama kami hingga akhir senja, karena rekan yang ia kunjungi sedang ke luar kota, dan ia tidak dapat berbahasa Inggris. Untungnya Rowan Gould segera membantunya dan memberikan saran apa yang dapat ia lakukan selama di Melbourne hingga malam hari. Oh Mr. Amin, semoga kamu tidak tersesat nanti.

 

(Subhan Setowara)