|
|
Rangkaian acara moslem youth exchange gelombang 3 dimulai dengan briefing dikedutaan besar Australia,kantor didaerah kuningan yg pernah menjadi sasaran pemboman terroris beberapa tahun silam, disambut dengan pemeriksaan security yg super ketat, sempat terlintas difikiran dgn seketat gini pengamanan ternyata masih bisa kecolongan yah(pelajaran :Tak ada benteng yg tak bisa diruntuhkan)manusia boleh saja mengklaim punya pertahanan paling kokoh didunia sekalipun namun siapa yg mampu mencegah kehendak tuhan klu sudah berkehendak(tidak dibuka forum diskusi seputar takdir dan kehendak tuhan). Continue reading MEP Briefing at Australian Embassy(mi dia primero de el program)
Melbourne– Keberadaan Islam sebagai agama yang mengemban misi perentas kasih sayang bagi semesta alam (rahmatan lil”alamin) masih kerap disalahpahami. Kemunculan wajah Islam yang menampakkan ketiadaan toleransi terhadap keberagaman merupakan salah satu faktor pemicu penting pendangan tersebut. Di lain sisi, esensi keberagamaan dalam Islam masih belum dapat dipahami secara lebih menyeluruh. Itulah sekilas petikan dari diskusi ringkas yang peserta Indonesia-Australia Muslim Exchange Program (MEP) bersama Nuim Khiyat di Kantor Radio Australian Broadcasting Channel (05/06/2010). Continue reading Nuim Khiyat: Ummat Islam Harus Belajar dari Dunia Lain
Hari kedua, untuk pertemuan pertama kami bertemu dengan Dr. Nasya Bahfen seorang Dosen Senior dengan umur yang sangat muda 32 tahun. Dr. Nasya bertukar pikiran dengan kami mengenai bagaimana perkembangan media di Indonesia dan Australia. Bahwa setiap negara memiliki kelemahan dan kekurangannya masing-masing. Seperti di Indonesia. Kelemahannya adalah bahwa jurnalisme terlalu vulgar, sehingga hal-hal yang seharusnya tidak ditampilkan dipublik seperti (mayat dan berita kriminalitas) tetapi yang patut dipuji dari Jurnalisme di Indonesia adalah kebebasan pers untuk mengkritik hal-hal sosial maupun kebijakan pemerintah. Hal ini harus di kembangkan sebagai alat control bagi pemerintah.
Sedangkan di Australia sendiri, Media harus bebas tetapi tetap ada koridor-koridor tertentu yang harus mereka patuhi, selain itu untuk menjadi Wartawan di Australia sangat sulit, sebab harus menempuh pendidikan profesional wartawan dan ada jenjang-jenjang pendidikannya.
Selanjutnya kami dibawa oleh Dr. Nasya Bahfen untuk mengikuti Tour singkat di RMIT City Campus, sebuah gedung dengan asritektur minimalis dengan fasilitas-fasilitas pendidikan yang canggih, kami juga di ajak Nasya untuk mengunjungi fasilitas Musholla atau yang biasa disebut dengan spiritual Center di RMIT. Spiritual center ini sangat lengkap dengan fasilitas wudhu air dingin dan air hangat serta tempat yang sangat bersih. Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah Australia, terutama Universitas-universitas Australia memberikan perhatian untuk setiap tumbuh kembang negara Multikultural tersebut.
Percakapan dengan Dr. Nasya Bahfen terasa begitu singkat, karena begitu banyak yang ia ketahui mengenai Indonesia, dari berbagai penelitian yang ia lakukan.
Pertemuan selanjutnya yang kami lakukan adalah dengan Islamic Women’s Welfare Council of Victoria. Kami bertmeu dengan Rasheeda Cooper. Lembaga ini banyak membantu wanita Imigran muslim dari berbagai macam negara mengenai berbagai macam hal terutama mengenai kekerasan dalam rumah tangga, serta bagaimana wanita imigran tersebut beradaptasi dengan lingkungan baru mereka di Australia.
Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan kami untuk bertemu dengan Larry Marshal, Project Director of Young Muslim Leadership Training Program Centre For Dialogue, La Trobe University. Sayang waktu kami sangat singkat, sebab berdiskusi dengan Larry merupakan hal yang sangat menyenangkan selain karena orangnya sangat ramah juga karena keterlibatannya dalam program Young Muslim LeadershipTraining Program membuatnya tahu banyak hal mengenai dunia Muslim di Australia dan Negara lain, dan banyak permasalahan serta salah persepsi mengenai dunia Islam hanya karena kurangnya Dialog dan Cover media yang negatif terhadap dunia Islam.
Berpisah dengan Larry kami lanjutkan perjalanan selanjutnya dengan mengunjungi Preston Mosque yang terdapat di 90 Cramer street, west preston, menurut kami semua Masjid ini sangat kolot karena pada pintu masuk masjid terdapat plang yang bertuliskan bahwa wanita dilarang masuk jika tidak memakai pakaian muslim yang layak, hal ini sungguh sangat tidak sesuai syariat Islam.
Malam kedua di Melbourne kami tutup dengan makan malam dengan Islamic Council of Victoria dan Muslim Community Leaders serta beberapa alumni dari program MEP dari Australia di sebuah Midlle Eastern Restaurant, disini kami sempat mencicipi berbagai macam makanan dari Lebanon, meskipun tidak sesuai dengan lidah kami, tapi kami bersyukur bisa mencicipi makanan dari negara lain, sebagai bagian dari program ini untuk mempelajari sesuatu yang berbeda dari budaya negara lain termasuk dalam hal makanannya.
Penerbangan kami dengan menggunakan QF 423 mendarat dengan mulus di Bandara Sydney. Perjalanan panjang yang kami tempuh selama 8 jam tidak terasa karena kami menggunakan penerbangan malam, sehingga sebagian waktu dari penerbangan kami gunakan untuk tidur. Tiba di Melbourne pada pukul 11. 30, kami langsung di jemput oleh mas Wawan Hermawan. Koordinator kami untuk hari itu di Melbourne. Tentu saja setiap negara yang pertama kali kita kunjungi akan menimbulkan kesan baru yang sangat menarik. Begitu juga ketika kami pertama kali tiba di Melbourne, suasana negara maju dapat kami rasakan begitu tiba, terutama dari lalu lintas yang tertib dan bersihnya jalan tanpa sampah.
Selajutnya kami check in di Apartemen kami, Darling on Collins yang bertempat di tengah kota, tepatnya di Collins Street, apartemen kami ini benar-benar berada di tengah kota, sehingga begitu kami keluar dari apartemen, pemandangan hiruk pikuk kesibukan kota melbourne dapat kami rasakan.
Hari pertama, selepas mendarat kami habiskan dengan bertemu, dengan Manajer Program kami dari Asia Link yaitu Mba Mila Sudharsono, kandidate P.hD Jeremy Kingsley dan Mba Dian, seharusnya saat itu kami juga bertemu dengan Proffesor Tim Lindsey, namun karena Professor Tim saat ini ada keperluan mendadak sehingga harus terbang kembali ke Indonesia. Pertemuan dengan Jeremy dan mba dian, memberikan pengetahuan kepada kami, tentang hal-hal apa yang harus dipersiapkan oleh kami yang ingin melanjutkan sekolah kami ke jenjang yang lebih tinggi (S3) sebab sebagian dari kami adalah Dosen, sehingga sudah menjadi kewajiban bagi kami untuk melanjutkan pendidikan setidaknya pada level doktoral. Pertemuan ini membuat kami ingin melanjutkan pendidikan kami di University of Melbourne sebagai salah satu perguruan terbaik di Australia dengan atmosfir pendidikan dan fasilitas pendidikan yang baik pula.
Selanjutnya, hari pertama di Melbourne kami selesaikan dengan makan malam bersama Asia Link dan Asia Education Foudation dari University of Melbiurne di Bali Bagus Restaurant. di Bali Bagus Restaurant ini kami sedikit mendapat kejutan yaitu bertemu dengan istri dari mas Wawan Hermawan yaitu Bonnie Hermawan yang merupakan orang Autralia Asli.
Kami mengawali perjalanan dan petualangan kami di Australia dengan mengikuti Briefing yang diadakan oleh Kedutaan Besar Australia. Dalam briefing yang kami ikuti, kami mendapatkan penjelasan mengenai garis besar program kami, siapa organisasi dan orang-orang yang akan kami temui, serta wawancara dengan beberapa majalah ternama. Perjalanan kami selama dua minngu yang akan datang sudah tergambar dengan jelas lewat briefing ini, dapat kami bayangkan bahwa meskipun hanya 2 minggu pertukaran yang kami ikuti, namun pengalaman yang kami terima beragam.
Lewat briefing ini kami juga sudah tidak sabar untuk memulai petualangan kami di Australia (Melbourne, Canberra dan Sydney).
australia ibarat surga bagi pengungsi. Negara ini sangat terbuka dalam menerima pengungsi dari berbagai negara. Negara juga memberikan fasilitas perumahan bagi mereka. Sementara itu, banyak NGO yang membantu mereka agar bisa survive di sana dan melakukan upaya beradaptasi dengan kultur Australia, menyediakan berbagai keterampilan, seperti bahasa dan kerajinan tangan, membantu mencarikan mereka pekerjaan, dll
Satu hal yang menakjubkan bahwa Australia dihuni oleh penduduk yang beranekaragam. Mereka tidak hanya merupakan penduduk asli (aborigin), tetapi juga pendatang yang memiliki agama dan budaya yang berbeda. Hal ini dikuatkan dengan kondisi yang penulis temui ketika penulis dan rekan-rekan MEP mengunjungi Methodist Ladies’ College Community (MLC) di Melbourne. Ini hanyalah sebagian kecil dari kunjungan kami, namun penulis melihat gambaran dari penduduk Australia yang multicultural. Betapa tidak, dalam sebuah kelas kecil di mana kami mengadakan dialog, terdapat siswi-siswi yang berasal dari berbagai negara, tentu saja memiliki budaya yang berbeda. Tidak hanya itu, jika dipandang dari segi agama, mereka memiliki agama yang juga berbeda-beda. Di antara mereka ada yang beragama Kristen, Budha, dan Yahudi. Penulis juga sempat kaget ketika sesi perkenalan dalam dialog kami ketika itu, ternyata banyak siswa dalam kelas tersebut yang menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki agama, padahal ketika itu mereka sedang mengikuti pelajaran agama. Salah seorang guru agama MLC menjelaskan bahwa semua siswa tetap mempelajari agama, paling tidak untuk mengetahui tentang arti dan peran agama dalam kehidupan.
Itulah uniknya Australia, toleransi dan saling pengertian antar individu tetap terpelihara, walaupun mereka memiliki budaya yang berbeda dan memiliki pandangan berbeda mengenai agama yang dianut. Tidak hanya itu, mereka bahkan bebas memutuskan untuk tidak menganut agama apapun. Toleransi beragama juga dapat dilihat berdasarkan pengamatan penulis ketika berkunjung ke Universitas Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT). Di sana disediakan sebuah ruangan untuk dapat digunakan oleh seluruh personel kampus untuk beribadah. “Pada satu kesempatan dapat digunakan oleh muslim untuk acara berbuka bersama di Bulan Ramadhan, pada kesempatan lain juga dapat digunakan oleh penganut agama lain untuk kegiatan agama mereka”, demikian dijelaskan oleh Narsya Bahfen, salah seorang dosen RMIT. Di gedung sebelas tingkat dua Universitas RMIT, juga dapat ditemukan ruang shalat khusus perempuan dan ruang shalat khusus laki-laki. Selain itu, di salah satu sisi dinding kampus tersebut juga terdapat simbol-simbol dari berbagai agama yang mereka anut. Negara Kangguru tidak memiliki agama nasional resmi. Rakyat bebas memilih agama apapun untuk beragama dan bebas untuk tidak memeluk agama, asalkan mereka mematuhi hukum. Menurut pandangan penulis, ini sebuah aturan yang bijaksana. (Fauza Masyhudi)
By Rita Pranawati
Setelah merasakan Melbourne dengan segala hiruk pikuk dan aktivitas sosialnya, penulis merasa terkejut dengan Canberra yang sangat sepi. Setelah berkeliling Canberra, penulis memahami bahwa Australia membedakan kota pemerintahan dan kota bisnis. Kota bisnis adalah Melbourne, sedangkan kota pemerintahan adalah Canberra. Canberra merupakan kota yang dirancang dan dibangun sebagai kota pemerintahan. Di tengah kota terbentang danau yang menyejukkan siapa pun yang memandangnya. Dari Mount Ainsle terlihat jelas runtutan bangunan War Memorial Park hingga ke Parlemen House. Di tengah kota ada city business center dan pusat perkantoran. Menariknya bahasa Indonesia adalah bahasa asing pertama yang banyak diminati oleh murid-murid dari TK hingga Universitas. Tidak mengherankan jika disini mudah bertemu dengan orang yang bisa berbahasa Indonesia.
Di Canberra grup MEP 2010 sempat melakukan dialog dengan IFFECT, organisasi yang bergerak di bidang interfaith, yang diketuai Alma Amstrong. Diskusi dalam kelompok ini sangat menarik. Beberapa peserta dialog mengira bahwa Indonesia adalah negara Islam. Selain itu, Islam di Indonesia sangat ekstrim sehingga perempuan tidak bisa ke dokter laki-laki. Mereka juga mengira bahwa hak-hak perempuan muslim banyak yang tertindas.
Para peserta MEP dengan tegas menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara sekuler dengan hukum yang sekuler pula tetapi tetap menghargai agama. Sejak kemerdakaan umat Islam Indonesia telah berkorban untuk menjaga kebhinekaan dengan tidak meletakkan tujuh kata (dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya) dan hanya menyatakan Ketuhanan Yang Maha Esa. Tentu hal ini dimaksudkan untuk menjaga keragaman agama, budaya, dan bahasa semua daerah yang tergabung dengan Indonesia dengan bahasa Indonesia sebagai pemersatunya. Selain itu kehidupan Islam di Indonesia juga berbeda dengan kehidupan Islam di timur tengah. Perempuan Indonesia dapat bepergian sendiri tanpa muhrim sekolah, dan juga bekerja. Para perempuan Indonesia juga dapat berkarir dimanapun. Konsep keislaman yang dibangun oleh sebagian besar masyrakat Indonesia adalah berIslam dengan kesadaran dan bukan paksaan, termasuk menggunakan jilbab. Memilih dokter bagi perempuan muslim adalah pilihan apakah mereka akan pergi ke dokter perempuan atau laki-laki. Madrasah dan pondok pesantren di Indonesia juga mengajarkan kurikulum nasional milik pemerintah dan juga kurikulum agama Islam.
Setelah diskusi para peserta menyatakan sangat puas dan merasa bahwa pemahamannya tentang Indonesia jauh dari kenyataannya setelah bertemu dan berdiskusi dengan para peserta MEP 2010 grup pertama. Bayangannya tentang Indonesia yang penuh dengan ekstrimisme pupus sudah. Sebuah manfaat yang luar biasa dari program Moslem Exchange Program yang di inisiasi oleh Australia Indonesian Institute. Para peserta MEP juga menyampaikan hasil diskusi ini kepada duta besar Indonesia untuk Australia, Primo Alui Joelianto. Pihak kedutaan menyatakan senang dengan kebermanfaatan program ini.
 
By. Rita Pranawati
Grup Moslem Exchange Program pertama yang terdiri dari Nikmatullah, MA(Lombok), Rita Pranawati (Jakarta), Fauza Masyhudi (Padang) dan Helma Malini (Pontianak) mendapatkan kesempatan yang luar biasa untuk bertemu dengan Yang Dipertuan Agung, Ratu Quentin Bryce yang merupakan perwakilan Ratu Elizabeth di Australia. Ratu Quentin Bryce merupakan Gubernur Jenderal yang menjabat sebagai kepala negara, sedangkan kepala pemerintahan di pegang oleh Perdana Menteri Kevin Rudd. Dalam kunjungan ini, para peserta didampingi oleh Prof. Virginia Hooker yang merupakan inisiator program Moslem Exchange Program, Brent Hall (Direktur Australia Indonesia Institute), serta Chadidjah Al-Juned dan Umar Assegaf (Pelaksana Program MEP di Canberra).
Dalam dialog ini para peserta diminta menceritakan program-program yang berkaitan dengan program-program untuk perempuan dan kendala yang dihadapi oleh perempuan Indonesia. Nikmatullah menceritakan problem kawin cerai yang menyatu dengan budaya di Lombok yang mengakibatkan anak dan perempuan menjadi terlantar. Tuan Guru sebagai pemimpin lokal yang merupakan model bagi warga juga mempraktekan kawin cerai, poligami, dan nikah siri. Helma Malini menceritakan pesantrennya yang sebagian besar muridnya berasal dari keluarga kurang mampu. Santri pria dan wanita memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Yang Mulia Quentin Bryce juga menanyakan apakah pesantren mengajarkan bahasa Inggris dan pelajaran umum lainnya seperti matematika, fisika, dan juga olah raga. Helma menambahkan bahwa selain kurikulum pendidikan Islam, pesantren juga mengajarkan kurikulum umum. Rita dan Nikmah yang merupakan alumni pesantren modern juga menceritakan pengalamannya bahwa di pesantren modern santri juga belajar musik, melakukan olah raga, maupun pramuka. Yang Mulia Quentin Bryce sangat bangga dengan peran pesantren di Indonesia.
Rita yang merupakan aktivis Nasyiatul Aisyiyah, organisasi perempuan muda Muhammadiyah menambahkan bahwa lembaganya melakukan advokasi kekerasan terhadap perempuan dan juga terhadap perdagangan manusia. Kampanye dan sosialisasi dilakukan Nasyiatul Aisyiyah melalui radio, tokoh masyarakat, maupun melalui program pemberdayaan ekonomi perempuan. Rita menambahkan bahwa program pemberdayaan ekonomi diharapkan menjadi salah satu alternatif solusi untuk mengurangi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perdagangan manusia, maupun keinginan menjadi buruh migran. Bagaimanapun akar permasalahan pendidikan, KDRT dan trafiking di Indonesia adalah persoalan ekonomi. Ketika para peserta menyatakan bahwa budaya Indonesia masih cukup patriarkhi, spontan Yang Mulia Quentin Bryce juga menambahkan bahwa budaya patriarki tidak mengenal area. Di negara yang maju sekalipun seperti Australia partriarki masih cukup kental. KDRT pun masih banyak terjadi di Australia.
Diakhir perbincangan Ratu menyambut baik usaha-usaha peningkatan kualitas hidup perempuan yang telah dilakukan organisasi-organisasi perempuan di Indonesia, termasuk didalamnya para peserta MEP. Peningkatan tingkat pendidikan perempuan dan kehidupan ekonomi menjadi usaha yang sangat penting dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia. Usaha-usaha tersebut harus terus dilakukan dengan optimisme agar kualitas hidup perempuan Indonesia khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

MELBOURNE DAN MULTIKULTURALISME
Pertama kali datang ke Melbourne, penulis merasa sangat takjub ketika menemui banyak orang dengan berbagai jenis warna kulit dan bahasa. Berbagai makanan dari berbagai negara seperti Vietnam, Timur Tengah, Turki, Itali, China, dan bahkan restoran Indonesia sangat mudah dijumpai. Begitu pula dengan perumahan-pemukiman ada juga yang memiliki ciri khas area berdasarkan kelompok-kelompok warga yang datang dan bermukim di Melbourne. Mempertahankan identitas dalam konteks ini tidaklah untuk mempertajam perbedaan tetapi justru menghargai perbedaan yang ada diantara mereka. Selain itu, mempertahankan identitas dan budaya negeri asal mereka juga memperkenalkan budaya mereka kepada kelompok lain dan membuat mereka merasa nyaman dan ”hommy” di Mebourne. Mempertahankan identitas bukan berarti tidak terjadi integrasi antara warga pendatang, baik dari sisi budaya maupun kehidupan sosial ekonomi lainnya dengan budaya dan warga lokal. Warga Melbourne menyikapi keragaman dengan saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lainnya.
Di Melbourne banyak imigran yang datang, salah satunya adalah komunitas Sudan yang datang atas inisiasai UNHCR karena di Sudan sedang terjadi perang saudara. Banyak pula komunitas dari Bangladesh, Srilangka, dan juga Vietnam yang datang dan mengalami kekagetan dengan budaya Australia. Kesulitan bersosialisasi ini menyebabkan persoalan sosial yang luar biasa bagi keluarga warga pendatang. Anak-anak dan keluarga pendatang mengalami kesulitan beradaptasi untuk kehidupan seharai-hari seperti menggunakan toilet, menggunakan transportasi publik, beradaptasi dengan makanan, kedisiplinan, dan kehidupan sosial lainnya. Belum lagi persoalan bahasa, para pendatang mengalami kesulitan berkomunikasi dengan masyarakat lainnya. Pemerintah Australia merespon kondisi ini dengan menyediakan comission house untuk tinggal sementara di apartemen pemerintah. Selain itu, pemerintah Australia juga menyediakan program-program adaptasi baik untuk beradaptasi dengan kehidupan sehar-hari hingga peningkatan ketrampilan untuk menyiapkan mereka ke dunia kerja. Pemerintah juga menyediakan sekolah negeri gratis bagi siapa saja, begitu pula jaminan kesehatan ada untuk semua masyarakat. Kebijakan untuk memberikan perhatian khusus program adaptasi untuk para pendatang sangat membantu para pendatang ini meningkatkan taraf hidupnya dan beradaptasi dengan kondisi setempat.
Meskipun pemerintah sudah melakukan usaha untuk memberikan program adaptasi kepada keluarga pendatang tetapi berbagai problem sosial masih dihadapi para pendatang, khususnya kaum muda. Trauma dengan kehidupan perang di negeri asalnya merupakan problem tersendiri. Bagi orang tua, trauma ini tentu akan berimbas kepada pola asuh kepada anak-anaknya. Stress, frustasi, kaget dengan budaya lokal dan lari ke minum minuman keras, berbuat kriminal, enggan bersekolah adalah bagian dari problem kaum muda pendatang. Berbagai program dilakukan oleh NGO seperti Centre for Multicultural Youth di Melbourne dan Councilor Paul Donovan dan Foundation House di Dandenong (suburb yang cukup penting bagi Melbourne City karena banyak pendatang). Organisasi-organisasi ini melakukan konseling individual maupun aktivitas-aktivitas untuk mempertemukan kalangan muda baik yang permanen residen maupun pendatang dengan mengadakan berbagai aktivitas yang menjadi favorit anak muda. Misalnya konser musik maupun event-event olah raga untuk memberikan ruang beradaptasi dan bersosialisasi dengan kaum muda lainnya sehingga. Training-training leadership untuk kaum muda yang ingin menjadi pemimpin di komunitasnya dan menjembatani perbedaan serta melakukan peer group asistensi (pendampingan umur sebaya) juga menjadi andalan untuk melakukan adaptasi dengan kehidupan di Melbourne.
Kehidupan beragama di Melbourne juga sangat beragam. Semua agama diberi kesempatan sama untuk melakukan aktivitas keagamaannya. Meskipun muslim yang berjumlah kurang lebih 300 ribu adalah minoritas di Australia, tetapi Pemerintah Australia memberikan kesempatan bagi setiap agama melakukan aktivitas ibadahnya. Di RMIT misalnya disediakan mushola untuk tempat sholat sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Islamic Council of Victoria juga berperan cukup aktif untuk menginisiasi komunikasi kondisi dan kebutuhan komunitas Muslim dengan pemerintah. Pemerintah Australia juga memperbolehkan berdirinya sekolah Islam seperti Minaret College yang memiliki kurang lebih 2100 murid dari tingkat TK hingga SMA. Sebuah sekolah Kristen, Methodist Ladies School, salah satu sekolah terbaik di Melbourne, juga memberikan kesempatan yang sama bagi semua pemeluk agama untuk bersekolah di sini seperti dari Thailand, Hongkong, dan Inggris. Pelajaran agama yang diberikan disini adalah semata-mata mengajarkan pengetahuan tentang agama-agama itu sendiri dan nilai-nilai dasar universal keagamaan yang memang dimiliki oleh setiap agama, seperti nilai-nilai kebaikan kepada orang lain, toleransi, dan menghargai agama lain. Usaha-usaha untuk melakukan dialog antar agama juga dilakukan oleh berbagai kalangan, termasuk diantaranya Centre for Dialog, dengan programnya Young Muslim Leadership Training Program di La Trobe University yang dipimpin oleh Larry Marshal. Memperkenalkan Islam yang moderat dan tidak segarang seprti gambaran dalam media menjadi salah satu misi yang konsisten diperjuangkan oleh Centre for Dialog. Tetapi sebagaimana trend di negara barat, sebagian besar anak muda tidak terlalu tertarik datang ke gereja atau tempat ibadah lainnya. Menurut seorang pendeta di Anglican Church, hanya sekitar 8% penduduk Australia yang mengunjungi gereja sekali seminggu.
Meskipun usaha-usaha untuk meningkatkan saling memahami dan menghargai satu kelompok dengan kelompok lainnya masih juga ada kekurangan dan terus diusahakan, Melbourne merupakan model yang cukup menarik untuk menjadi contoh bagi daerah lain untuk membuka dialog antar komunitas dengan beragam etnik, budaya, bahasa dan agama.

|
|
Recent Comments